KATA PENUTUP

Kenyataan yang telah kita bahas di sini mengungkapkan bahwa tujuan dasar Israel adalah mengepung orang-orang Palestina dengan segala cara yang mungkin dan membuat hidup mereka menjadi berat sehingga mereka akan menghentikan perjuangan mendapat tanahnya dan pergi ke tempat lain. Para pemimpin Israel seperti Ben Gurion, Begin, Shamir, Netanyahu, Barak, dan Sharon semuanya telah mengikuti ideologi yang sama: Zionisme yang membabi buta dan menyerang. Hambatan terbesar untuk mewujudkan impian Zionis adalah orang-orang Palestina.

Gerakan untuk mewujudkan impian ini telah mengakibatkan pembantaian bangsa besar-besaran yang masih terjadi di Palestina selama setengah abad dan telah membawa rakyatnya ke dalam kehancuran. Mereka kehilangan segalanya: rumah, kebun, dan tanah mereka. Dan sebuah negara baru, yang ideologinya didasarkan atas teror dan kekacauan, dibangun di tanah mereka dulu. Di tempat rumah dan tanah pertanian Palestina pernah berada, di sana sekarang pabrik-pabrik, gedung, hotel, dan pusat perbelanjaan Israel didirikan. Namun negara Israel tidak berhenti di sini, seperti yang diperlihatkan sejarah, mereka masih menolak meninggalkan orang-orang Palestina dalam damai di atas tanah yang telah mereka tinggalkan.

Orang-orang Palestina, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar dan pokok mereka, terus menghadapi perlakuan menyiksa dan tak berprikemanusiaan. Diembargo secara ekonomi, mereka tak punya harapan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Di wilayah tempat perikanan merupakan sumber utama pendapatan, menangkap ikan justru dilarang; di wilayah tempat ekspor buah adalah sumber utama tenaga kerja, ekspor malah dibatasi. Akibatnya, orang-orang Palestina tidak punya pilihan selain bekerja sebagai separuh budak untuk upah sekecil-kecilnya dari pabrik-pabrik Israel.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
(Qur'an, 16:90)

Kaum muda tanpa senjata selain batu dan ketapel menghadapi senapan api sebagai balasan lemparan batunya. Sebagian besar dari mereka yang terluka tertembak di kepala, dada, dan punggung. Bahkan, tentara Israel melakukan kebijakan kejam penghancuran atas seluruh penduduk sipil. Misalnya, seorang bapak yang kembali ke rumah dengan sepotong roti ditembak tanpa alasan di depan anak-anak dan istrinya yang hamil. Wanita yang bekerja di ladangnya ditembak dari atas oleh helikopter, tanpa alasan. Anak-anak yang kembali dari sekolahnya ditembak oleh tank-tank Israel sehingga kehilangan jiwanya. Sebagian besar orang ini tewas karena lukanya, karena para tentara Israel tidak membiarkan ambulan membawa orang yang luka atau pun pergi ke rumah sakit.


Adalah tanggung jawab seluruh manusia yang punya nurani untuk memastikan agar baik anak-anak Israel maupun Palestina bisa menatap masa depan kehidupan yang penuh damai dan harapan.

Berita tentang kejadian-kejadian mendadak terus datang dari Palestina. Ketika Anda membaca bagian ini, seorang anak Palestina lainnya mungkin tertembak lagi; lebih banyak lagi wanita, anak-anak dan orang tua yang tak bersalah yang mungkin kehilangan nyawanya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada Muslim sejati yang hanya berdiri menonton apa yang terjadi dan bertanya: “Apa yang mungkin aku perbuat?” Tak ada orang yang berhati nurani dapat membenarkan sikap tak merasa apa-apa melihat tragedi kemanusiaan yang tak terperikan ini. Jelas, setiap Muslim harus berupaya mengatakan “hentikan!” pada kekejaman ini dalam lingkungannya sendiri-sendiri.

Tak hanya di Palestina, tapi juga di seluruh dunia, bantuan terbesar yang bisa diberikan untuk membantu Muslimin tertindas adalah menentang ideologi Darwinis Sosial yang membabi buta, dan fasis yang mempertahankan kekejaman dan kebrutalan.

Sewaktu umat Islam di seluruh dunia tengah “diberondong” oleh penindasan dan penyiksaan kekuatan anti-Islam, orang-orang yang tidak langsung menyandang tanggung jawab seperti itu akan: menyuarakan suara orang Islam yang tertindas tersebut ke seluruh dunia, mengungkap pusat-pusat kekuatan penindasan, menyerang akar kekuatan ideologi ini, terus memperkuat dan menyi’arkan Islam, dan menetralkan hasutan ideologi anti-Islam melalui perjuangan pemikiran. Setiap Muslim yang terbunuh, terluka, dan ditindas tirani di Palestina seharusnya mengingatkan kita akan kewajiban ini sekali lagi. Ketika umat Islam memenuhi kewajiban ini, seluruh ideologi anti-Islam dan sistem anti-Islam akan hancur sepenuhnya, karena sesuai dengan firman Allah: "Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (Al-Qur'an, 17:81). Ketika keadilan muncul, lenyapnya sistem yang palsu tidak dapat dielakkan.





Untuk memastikan masa depan yang cerah bagi anak-anak Israel dan Palestina, mereka harus dibesarkan dalam lingkungan yang damai dan aman, dan dijauhkan dari bentrokan dan pertikaian. Seluruh anak-anak berhak atas masa depan yang indah dan cerah.